Senin, 01 Oktober 2012

Dongeng Minahasa BURUNG TAUN DAN BURUNG NGULNGUL


BURUNG TAUN DAN BURUNG NGULNGUL

Berabad – abad yang lalu kehidupan binatang sangat bebas. Mereka berada di alam semesta dengan riang gembira.Tidak ada rasa takut.Mereka dapat berkeliaran ke mana saja dan di mana saja.Di darat, di laut, dan di udara mereka hidup aman.Hal ini dapat dipahami karena daging, cula, kulit, bahkan seluruh bagian tubuh mereka belum diambil untuk bahan makanan, bahan pakaian, dan aneka hiasan.Mereka masih merupakan dambaan keindahan dan keseimbangan alam untuk manusia. Mereka merasa dilindungi manusia dan tidak merasa akan punah.
Dari sekian banyak binatang yang beterbangan di alam luas dan langit biru, terdapatlah burung taun dan burung bayan.Burung taun berbadan besar dan berbulu hitam.Sayapnya hitam bercampur putih.Ekornya berbulu panjang.Pada paruhnya terlihat garis sesuai dengan umurnya.Suaranya nyaring serak – serak basah.Sebaliknya, burung bayan bertubuh kecil.Bulunya sangat menarik karena berbulu kelabu.Pada paruh atas yang berbentuk topi terdapat mahkotanya (jambul).Suaranya merdu meskipun tidak nyaring.
Kedua burung ini bersahabat.Mereka hidup di hutan, di tanah tinggi, maupun di paya – paya.Mereka hinggap berdekatan, terbang bersama, dan mencari makan bersama pula.Itulah yang sangat menarik hati melihat kahidupan kedua burung itu.
Pada suatu hari mereka melanglang buana menghirup udara segar melewati pepohonan besar dan kecil. Mereka ingin menyaksikan tumbuhan yang menghijau, memerah, menguning, bahkan yang berbunga beraneka warna.Sepanjang perjalanan, sesekali mereka bernyanyi dengan irama dan nada yang berbeda.Sungguh indah ciptaan alam ini.
Setelah jauh berjalan, mereka pun hinggap di sebuah pohon.Pohon itu tumbuh subur, lebat daunnya, dan rindang.Nama pohon itu pohon beringin.Burung taun pun memulai percakapan dan bertanya kepada burung bayan, “Bolehkah aku meminjam topimu?Sebenarnya, sudah lama aku menginginkan topi mahkotamu.Setiap kali bila aku mau mengatakannya selalu saja rasa maluku timbul.Topimu akan kupinjam sehari, jadi besok akan kukembalikan.”
“Akan ke manakah engkau?” tanya burung bayan.
“Oh, aku hanya ingin pesiar,” jawab burung taun.
“Kalau demikian, boleh saja.Dekatkanlah kepalamu,” kata burung bayan.Burung bayan langsung mencabut mahkotanya dan melekatkan serta memasangkan mahkotanya secara rapi di atas kepala burung taun.
“Ya, sudah bagus,” kata burung bayan, “engkau kelihatan lebih perkasa.”
Tiba – tiba burung taun mengepak – ngepakkan sayapnya dan terbang.Tinggallah burung bayan di dahan pohon beringin itu.Timbul rasa curiga dalam hatinya, “Mungkinkah aku ditipu burung taun? Ah, tentu tidak! Bukankah kita sudah lama bersahabat.”Akan tetapi, rasa waswas selalu mengusik hatinya.
Dua hari sudah berlalu, tetapi burung taun belum kembali.Hal ini sangat menyedihkan burung bayan.Dia menangis karena tidak tahan menahan sedih.
“Nguul… nguul, nguul. Uuu! Uuuu, topiku!” tangis burung bayan.
Akhirnya, dia pergi ke pengetua hutan untuk melaporkan kesedihannya.Dengan kepala tanpa mahkota, burung bayan berangkat ke tangah hutan di mana pengetua hutan berada.Dia melihat banyak ular merayap di cabang – cabang pohon. Burung bayan berpikir bahwa ia pintar terbang, pasti ular – ular itu tidak dapat menggigitnya. Ular – ular itu ada yang berbisa, tetapi banyak pula yang tidak berbahaya dan tidak berbisa.Pada umumnnya ular bergerak dengan mengerutkan otot di kedua sisi tulang belakangnya secara bergantian.Ini yang menyebabkan gerak tubuhnya berombak – ombak.
Setelah jauh terbang, sampailah burung bayan ketempat tinggal pengetua hutan. Dia melaporkan apa yang sudah terjadi pada dirinya gara – gara burung taun. Pengetua hutan sangat marah atas tindakan burung taun.Kemudian, burung taun dipanggil menghadap pengetua hutan.Si nakal, burung kleak berwarna putih atau hijau, bertugas memanggil burung taun.Burung kleak ini selain nakal, juga sangat ribut.Dia suka sekali memakan papaya dan pisang.
Begitu kleak terbang berbunyilah dia, “Eak, eak, eak ….” Tidak berapa lama, tibalah kleak di tempat tinggal burung taun.Burung kleak berkata, “Hai teman, kamu dipanggil pengetua hutan.Kamu harus datang sekarang juga, tidak boleh ditunda.”
Lalu, burung tuan terbang bersama burung kleak. Setelah tiba di hadapan ketua, burung taun pun diadili.Pengetua bertanya, “Manakah mahkota burung bayan yang kaupinjam beberapa hari yang lalu?”Sambil memegang mahkota yang ada di kepalanya, burung taun menjawab, “Ini pengetua, tetapi sudah tidak bias dicabut lagi karena sudah menyatu dengan paruhku. Jika dipaksa untuk ditanggalkan, matilah aku.”Macam – macam alasan dikemukakan burung taun agar mahkota itu tetap menjadi miliknya.
Pengetua hutan berkata, “Kalau demikian, biarlah mahkota itu untukmu.Tetapi, ini suatu perbuatan tidak terpuji.Perbuatanmu sangat jahat.Kau perdaya burung bayan.Dia meminjamkan kepadamu dengan harapan dikembalikan, tetapi ternyata kau sudah berbohong kepadanya.Dia sangat sedih atas perbuatanmu itu.Perbuatan baik burung bayan kau balas dengan perbuatan tidak baik.Pinjaman harus dikembalikan.”
Burung taun hanya mengangguk – anggukan kepala.Kemudian, dia berkata, “Ampun pengetua hutan, ampuni aku.Ampuni aku juga burung bayan.Aku siap menunggu keputusan pengetua hutan.Sebenarnya, aku juga sedih dan menyesal, tetapi topi mahkota ini tidak dapat ditanggalkan lagi.Biarlah kita dengar keputusan pengetua saja.”
Kemudian, pengetua hutan berkata, “Topi mahkota itu tetap untuk burung taun karena tidak cocok lagi untuk burung bayan.”
Burung bayan segera menangis lagi tersedu sedan.
“Jangan menangis burung bayan.Walaupun kau tidak kelihatan bagus, tetapi kau tetap dipuji karena kebaikan hatimu. Karena kau menangis terus, ngul… ngul…, mulai sekarang kau kuberi nama Ngulngul,” kata pengetua hutan. Pengetua hutan juga berkata kepada burung taun, “Burung taun, kau memang lebih bagus, tetapi karena kau penipu dan hanya mementingkan diri sendiri, padamu kuberi nama Koak.”

 

 

Awu dan Taranak


AWU DAN TARANAK
Anggota Awu terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
Kepala Awu adalah Ama (ayah) dan ketika ia mati kemudian Ina (ibu) menggantikan dia. Fungsi kepala di tangan ayah di sini tidak berarti bahwa ia memiliki otoritas tanpa syarat di tangannya dalam organisasi rumah tangga. Berikut posisi kepala bersandar lebih ke arah makna bahwa ada rumah tangga dan kewajiban membela rumah tangga terhadap serangan dari luar.Sebagaimana ditetapkan oleh tradisi untuk pengelolaan rumah tangga Ama dan Ina wajib untuk membuat keputusan dan menetapkan kebijakan dalam musyawarah.
Dari perkawinan sebuah keluarga besar dibentuk yang mencakup beberapa Bangsal.Menurut adat, seorang Bangsal baru harus dibangun bersebelahan dengan Bangsal tua.Ini untuk kepentingan manajemen kedua belah pihak ', keamanan, dan masalah dengan lahan pertanian mereka saling.Sebuah kompleks bangsals seperti yang ditempati oleh penduduk yang memiliki hubungan keluarga disebut Taranak.Taranak kepemimpinan dipegang oleh Ama dari keluarga dan disebut Tu'ur. Tugas utama adalah untuk melestarikan Tu'ur ketentuan tradisional, mencakup hubungan antara Awu, mengatur cara-cara untuk memanfaatkan lahan pertanian yang dimiliki bersama, mengatur perkawinan antara anggota Taranak, hubungan antara Awu dan Taranak sampai dengan mencoba dan menghukum Anggota yang bersalah dari apa pun. Tetapi, apa pun yang dilakukan oleh dia, jika berkaitan dengan keamanan dan prestise dari Taranak, dia selalu akan meminta pendapat dari anggota Taranak, karena itu juga merupakan cadangan tradisional.
Berbeda dengan tingkat Awu di mana manajemen berada di tangan Ama dan Ina bersama-sama, pada tingkat Taranak peran Ina tidak terlalu menonjol. Taranak, Roong / Wanua, Walak
Pernikahan antara anggota Taranak membuat Taranaks baru.Bangsals mulai muncul dalam kelompok, membentuk kompleks yang semakin menjadi lebih luas.Batas-batas dari Taranak sebagai komunitas hukum mulai menjadi kabur, dan arti dari sebuah Taranak sebagai suatu kesatuan menjadi lebih abstrak.Jadi sebagai alat identifikasi para penghuni kompleks Bangsal, sebuah unit teritorial digunakan. Dengan kata lain fungsi identifikasi mulai bergeser dari bentuk hubungan darah untuk suatu bentuk penyelesaian.
Sebagai hasil dari proses ini sebuah komplek bangsal diciptakan dalam unit yang disebut Ro'ong atau Wanua. wilayah hukum yang Wanua meliputi kompleks Bangsal sendiri dan wilayah pertanian dan perburuan sekitarnya yang merupakan milik bersama dari penghuni Ro'ong atau Wanua. Kepala dari Ro'ong atau Wanua disebut Ukung yang berarti kepala atau pemimpin.Untuk pengelolaan wilayah tersebut, Ro'ong atau Wanua dibagi dalam beberapa bagian yang disebut Lukar.Pada awalnya ini Lukar bersandar terhadap keamanan, tetapi akhirnya Lukar digantikan menjadi jaga (satpam).
Sampai hari ini di beberapa tempat di Minahasa kata Lukar masih digunakan dalam arti seseorang yang merawat keamanan di desa atau di rumah kepala desa.
Seorang Ukung juga memiliki asisten yang disebut Meweteng.Tugas mereka pada awalnya adalah untuk membantu Ukung mengatur pembagian kerja dan pembagian hasil Ro'ong / Wanua.Distribusi hal ini sesuai dengan yang telah disepakati bersama.
Selain itu Ukung juga memiliki seorang asisten yang berfungsi sebagai penasihat, terutama dalam hal-hal yang sulit berkaitan dengan tradisi.Penasehat seperti ini tua-tua yang dihormati dan dihormati dan yang dianggap sebagai bijaksana, mereka bernama Pa Tu'usan (yang telah menjadi contoh).
Ro'ong / Wanua meningkat dari waktu ke waktu menjadi beberapa Wanua tertentu yang akhirnya disebut Walak.

TONTEMBOAN


TOAR DAN LUMIMUUT
Versi: Aneke Sumarauw Pangkerego

Dahulu kala, di pantai barat Pengunungan Wulur Mahatus terdapat sebuah batu karang yang bagus bentuknya. Batu karang itu tidak dihiraukan orang karena memang belum ada manusia di sekitarnya.
Suatu ketika dimusim kemarau, cahaya matahari begitu menyengat sehingga batu karang itu mengeluarkan keringat. Pada saat itu pula, terciptalah seorang wanita yang cantik. Namanya Karema, Ia berdiri sambil menadahkan tangan ke langit dan berdoa, “O, Kasuruan Opo e wailan wangko.” Artinya “Oh Tuhan yang maha besar, jika Kau berkenan, nyatakanlah di mana aku berada serta berikanlah teman hidup untukku”.
Setelah selesai mengucapkan doa, batu karang itupun terbelah menjadi dua dan mencullah seorang wanita cantik. Karema pun tidak sendiri lagi. Ia berkata kepada wanita itu, “Karena kau tercipta dari batu yang  berkeringat, engkau kuberi nama Lumimuut., Keturunanmu akan hidup sepanjang masa dan bertambah seperti pasir di pantai laut, Akan tetapi, kamu harus bekerja keras memeras keringat”.
Pada suatu hari, Karema menyuruh putrinya yang cantik molek itu menghadap ke selatan agar ia hamil dan memberikan keturunan. Lumimuut pun melaksanakan perintah ibunya, tetapi tidak terjadi suatu apapun, Karena ke arah selatan tidak berhasil, Lumimuut disuruh mengadap ke arah timur, barat, dan utara. Hal inipun didak membawa hasil.
Kemudian upacara diadakan lagi. Lumimuut disuruh menghadap kearah barat yang sedang berembus angin kencang. Lama-kelamaan, setelah upacara selesai, badan Lumimuut menjadi lain. Ternyata Lumimuut sudah hamil.
Selama hamil, Lumimuut selalu dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Karema. Ketika saatnya tiba, Lumimuut pun melahirkan anak laki laki yang diberi nama Toar. Toar pun diberi pengetahuan dan kemampuan seperti yang dimiliki Karema.
Pertumbuhan badan toar sangat cepat. Bentuk tubuhnya besar, kuat, kekar, dan perkasa. Di belantara hutan, Toar tidak takut dan tidak dapat ditaklukkan oleh anoa, babi rusa, maupun ular.
Setelah  Toar dewasa, berkatalah Karema kepada Toar dan Lumimuut, “Sekarang sudah saatnya kalian berdua mengembara mengelilingi dunia. Aku sudah menyediakan dua tongkat sama panjang. Tongkat untuk Toar terbuat dari pohon tuis dan tongkat untuk Lumimuut terbuat dari pohon tawaang. Kalau nanti dalam pengembaraan, kalian bertemu dengan seseorang baik pria maupun wanita membawa tongkat seperti ini, bandingkanlah dengan tongkat kalian. Kalau tongkat kalian sama panjang, berarti kalian masih terikat keluarga. Akan tetapi, bila tongkat itu berbeda dan tidak lagi sama panjang, kalian boleh membentuk rumah tangga. Semoga hal ini terjadi dan kalian akan menghasilkan keturunan. Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.”
Nuwu (amanat) Karema menjadi bekal bagi Lumimuut dan Toar dalam pengembaraan mereka. Gunung dan bukit mereka daki Lembah dan ngarai mereka lalui. Toar ke arah utara dan Lumimuut ke arah selatan. Tuis di tangan Toar bertambah panjang, tetapi tawaang di tangan Lumimuut tetap seperti biasa,
Pada suatu malam bulan purnama, di tengah kilauan sinar bulan, bertemulah Toar dengan Lumimuut. Sesuai amanat Karema, merekapun membandingkan tongkat masing masing. Ternyata, tongkat mereka tidak sama panjang lagi sehingga upacara pernikahan pun dilaksanakan. Bintang dan bulan sebagai saksi. Puncak gunung tempat pelaksanaan upacara tampak bagaikan bola emas. Gunung itu kemudian dinamakan Lolombulan.
Setelah upacara pernikahan, mereka pun mencari Karema. Akan tetapi, ia tidak ditemukan. Kemudian, mereka menetap di daerah pegunungan yang banyak ditumbuhi buluh tui (buluh kecil). Disanalah mereka beranak cucu. Keturunan demi keturunan, kembar sembilan (semakarua siyouw), dua kali sembilan. Kelahiran keturunan itu selalu disambut bunyi siul burung wala (doyot) yang dipercaya sebagai pertanda memperoleh limpah dan berkat karunia.